Sedang Membaca
Ibadah Jalan, Penyakit Terkontrol
Ramadhan telah tiba, saatnya berpuasa. Namun, dilema menghantui mereka yang mengidap penyakit kronis. Bolehkah berpuasa?
Setiap bulan suci Ramadhan tiba, umat muslim bersukacita berpuasa. Namun, mereka yang menderita penyakit sistemik seperti diabetes melitus (DM) dan hipertensi, keinginan menjalankan ibadah puasa diwarnai keraguan: akankah penyakit saya bertambah parah kalau berpuasa?
Menurut spesialis penyakit dalam dari FKUI/RSCM dr Reno Gustaviani R SpPD, keputusan berpuasa Ramadan adalah pilihan religius, jadi tidak ada istilah kontra indikasi maupun indikasi dari berpuasa. “Sering kali anjurannya adalah tidak berpuasa.Hanya,bagi mereka yang tetap teguh ingin berpuasa seyogianya paham akan risiko atau konsekuensinya dan taat mengikuti anjuran medis agar aman,” tuturnya.
Supaya tetap aman, penderita diabetes atau biasa disebut diabetesi sebaiknya berkonsultasi ke dokter dan melakukan pemeriksaan. Pertimbangan yang diambil antara lain penilaian kondisi fisik, kontrol metabolik, penyesuaian diet, penyesuaian jenis obat, dan mengenali tanda dan gejala hipoglikemia, dehidrasi, dan kemungkinan komplikasi lain.
Reno mengungkapkan, terdapat tiga kelompok penyandang DM. Kelompok pertama umumnya bisa terkendali dengan perencanaan makan dan olahraga teratur; kelompok kedua adalah mereka yang memerlukan obat hipoglikemik oral atau OHO (baik dalam dosis tunggal dan kecil maupun dosis yang lebih tinggi dan terbagi).Sementara,kelompok terakhir adalah diabetesi yang “ketergantungan” pada insulin, baik yang memerlukan insulin satu kali sehari maupun dua kali sehari atau lebih.
Dari ketiga kelompok tersebut, kelompok pertama dinyatakan tidak bermasalah jika berpuasa. Begitu pun kelompok kedua masih dapat melakukan ibadah puasa dengan melakukan perubahan dalam perencanaan makan, aktivitas fisik dan pengobatan. Berbeda dengan dua kelompok lainnya, diabetesi yang masuk kategori kelompok tiga sebaiknya tidak melakukan puasa Ramadhan.
“Namun, dengan motivasi yang kuat dan pemantauan yang baik, diabetesi kelompok tiga yang menggunakan insulin satu kali sehari masih dapat berpuasa,” ungkapnya.
Selama berpuasa, individu memperoleh energi pertama dari makanan sahur dan selebihnya sumber energi dari dalam tubuh yang didapat dari pemecahan glikogen hati. Glikogen hati dapat menjadi sumber glukosa selama 12-16 jam.
Saat berpuasa memang terjadi beberapa perubahan fisiologis. Biasanya, terjadi penurunan kadar glukosa darah. Pada beberapa keadaan juga bisa terjadi hipoglikemia. Pasien DM dengan glukosa darah terkontrol, berpuasa selama 14 jam umumnya tidak mengganggu kesehatan.
Namun, tidak demikian dengan mereka yang tidak terkontrol, cadangan glikogen hati bisa menurun menyebabkan pemecahan lemak lebih awal dan timbullah ketosis. Pasien DM yang tidak terkontrol juga cenderung dehidrasi karena poliuria. “Yang sering kali ditakutkan adalah komplikasi akut DM,” sebut dr Reno.
Untuk itu, penting bagi pasien untuk membiasakan memonitor glukosa darah secara ketat karena glukosa darah dapat berfluktuatif secara cepat selama Ramadhan. Begitu pula tanda dan gejala hipoglikemia dan dehidrasi penting untuk dikenali.
“Rajin-rajinlah memeriksa kadar gula darah. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl, sebaiknya segera berbuka saja,” saran Reno.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa puasa bagi penyandang DM cukup aman dan boleh saja dilakukan asal tidak terjadi komplikasi. Pemantauan yang cermat dapat mengurangi risiko komplikasi.
Kondisi lain yang kerap terkait DM adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penatalaksanaan puasa bagi pasien hipertensi umumnya sama saja.
Menurut spesialis penyakit dalam dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Dr Ari Fahrial Syam SpPDKGEH MMB, kondisi hipertensi justru bisa jadi lebih baik dengan berpuasa. Sebabnya, pola makan lebih terkontrol dan pengendalian diri juga lebih baik.
Lantas bagaimana bila pasien bersangkutan masih harus minum obat? “Obat dapat terus diminum, tinggal didiskusikan dengan dokter untuk minta obat yang dosisnya bisa diminum dua kali sehari, saat berbuka dan sahur,” tandasnya. (inda susanti/sindo/via)
Sumber: Okezone.com | 13/09/2007




