Obat Diabetes
Ada beberapa jenis obat untuk penderita kencing manis tipe 2, yaitu: Sulfonylureas, Meglitinida, Biguanida, Alpha-Glucosidase Inhibitors, dan Thiazolidinedione. Ke empat jenis obat ini menggunakan nama umum yaitu oral hypoglicemic agents ( OHA).
Obat-obatan ini bisa diberikan secara terpisah maupun kombinasi satu dengan yang lainnya. Diperlukan waktu untuk memastikan jenis obat atau kombinasi mana yang paling tepat untuk seorang penderita diabetes melitus. Jika gula darah masih tetap tinggi setelah mengkonsumsi obat yang diberikan, maka segeralah kembali berkonsultasi dengan dokter anda.
Namun demikina, dari semua itu kombinasi yang terbaik dalam mengkonsumsi obat adalah dengan tetap mengontrol pola makan dan olahraga yang teratur.
Sulfonylureas
Obat yang berbentuk tablet ini bekerja dengan menstimulasi sel-sel beta dalam pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Obat ini juga membantu sel-sel dalam tubuh menjadi lebih baik dalam mengelola insulin. Pasien yang paling baik merespon sulfonylurea adalah pasien DM tipe 2 berusia di bawah 40 tahun, dengan durasi penyakit kurang dari lima tahun sebelum pemberian obat pertama kali, dan kadar gula darah saat puasa kurang dari 300 mg/dL (16,7 mmol/L).
Adapun beberapa nama dagang dari jenis obat ini antara lain: Diabinese, Daonil/ Euglocon, Diamicron, Gilbenese/ Minodia, Glurenom, Tolanase, Rastinon.
Obat ini sebaiknya diberikan 20-30 menit sebelum makan. Beberapa jenis obat yang mengandung sulfonylurea antara lain chlorpropamide (Diabinese), tolazamide (Tolinase), acetohexamide, glipizide (Glucotrol), tolbutamide (Orinase), glimepiride (Amaryl), glyburide (DiaBeta, Micronase), glibenclamide, dan gliclazide.
Kebanyakan pasien bisa menerima sulfonylurea dengan baik selama 7 hingga 10 tahun sebelum efektifitasnya menurun. Untuk meningkatkan manfaatnya, sulfonylureas bisa dikombinasikan dengan insulin dalam jumlah kecil atau dengan obat diabetes lain seperti metformin atau thiazolidinedione.
Sulfonylurea sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil atau menyusui, dan pasien-pasien yang elergi terhadap obat golongan sulfa. Efek samping utama obat ini adalah kenaikan berat badan, dan retensi air. Meskipun sulfonylurea memiliki risiko hipoglikemia lebih rendah dibandingkan insulin, namun hipoglikemia yang diakibatkan sulfonylureas bisa berlangsung lama dan berbahaya. Sulfonylureas jenis baru seperti glimipiride, memperlihatkan risiko hipoglikemia hanya sepersepuluh dibandingkan sulfonylureas terdahulu. Beberapa pasien juga dilaporkan mendapat risiko-meski kecil—gangguan pada jantung.
Sulfonylureas berinteraksi dengan banyak sekali jenis obat, sehingga pasien perlu ditanya obat-obat apa saja yang mereka konsumsi termasuk obat-obatan alternatif.
Meglitinida
Meglitinida juga termasuk jenis obat diebetes yang bekerja dengan menstimulasi sel-sel beta di pankreas untuk memproduksi insulin. Yang termasuk golongan Meglitinides adalah repaglinida (Prandin), nateglinida (Starlix), dan mitiglinida.
Mekanisme aksi dan profil efek samping repaglinida hampir sama dengan sulfonylurea. Agen ini memiliki onset yang cepat dan diberikan saat makan, dua hingga empat kali setiap hari. Repaglinida bisa sebagai pengganti bagi pasien yang menderita alergi obat golongan sulfa yang tidak direkomendasikan sulfonylurea. Obat ini bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan metformin. Harus diberikan hati-hati pada pasien lansia dan pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
Efek samping umum golongan meglinitide adalah diara dan sakit kepala. Sama dengan sulfnylurea, repaglinida memilki risiko pada jantung. Jenis yang lebih baru, seperti nateglinida, memiliki risiko sama namun lebih kecil.
Biguanida(Biguanida)
Jenis obat ini telah digunakan lebih dari 50 tahun, dan yang dikenal antara lain metformin. Obat ini mampu mengurangi penyerapan zat gula dari usus dan mempunyai pengaruh yang rumit pada hati. Karena itu mereka yang punya masalah dengan hati tidak boleh makan obat ini. Penderita dengan gangguan ginjal sebaiknya juga tidak mengkonsumsi obat ini.
Namun yang lebih hati-hati lagi adalah penggunaan metformin pada gangguan hati berat dan hipoksemia, dan pecandu alkohol berat maupun sedang. Pada pasien-pasien ini, metformin bisa menyebabkan asidosis laktat, suatu kondisi yang pada 50 persen pasien bisa fatal.
Tak perlu khuatir jika tingkat gula darah menjadi turun drastis setelah minum metformin, karena obat ini tidak merangsang dikeluarkannya insulin. Biasa diberikan pada orang dengan berat badan lebih, karena mencegah rasa lapar dan tidak menambah berat badan.
Efek samping obat ini antara lain; masalah pada gastrointestinal termasuk neusa dan diare. Metformin juga mengurangi penyerapan vitamin B1 dan asam folat, yang sangat penting mencegah gangguan jantung. Ada laporan ditemukannya asidosis laktat, kondisi yang berpotensi mengncam jiwa, khususnya pada mereka yang memiliki faktor risiko. Namun analisis kesluruhan menyebutkan tidak ada risiko metformin yang lebih besar dibandingkan obat diabetes tipe 2 lain.
Alpha-Glucosidase Inhibitors
Alpha-glucosidase inhibitor, termasuk di dalamnya acarbose (Precose, Glucobay) dan miglitol (Glyset) memilki cara kerja mengurangi kadar glukosa dengan menginterfensi penyerapan sari pati dalam usus.
Acarbose cenderung menurunkan kadar insulin setelah makan, yang merupakan keuntungan khusus obat ini, karena kadar insulin yang tinggi setelah makan berkaitan dengan pengingkatan risiko penyakit jantung.
Studi tahun 2002 juga menemukan bahwa obat ini kemungkinan bisa menunda datangnya diabetes tipe 2 pada orang risiko tinggi. Alpha-glucosidase inhibitor tidak seefektif obat lain bila digunakan sebagai terapi tunggal. Namun bila digunakan secara kombinasi, misalnya dengan metformin, insulin, atau sulfonylurea, bisa meningkatkan efektivitasnya.
Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah produksi gas dalam perut dan diare, khususnya setelah konsumsi makanan tinggi kandungan karbohidrat yang menyebabkan sepertiga pasien berhenti menggunakan obat ini. Medikasi obat ini dilakukan saat makan. Obat ini juga kemungkinan mempengaruhi penyerapan zat besi.
Thiazolidinedione
Thiazolidinedione (sering juga disebut TZDs atau glitazone) berfungsi memperbaiki sensitivitas insulin dengan mengaktifkan gen-gen tertentu yang terlibat dalam sintesa lemak dan metabolisme karbohidrat. Thiazolidinedione tidak menyebabkan hipoglikemia jika digunakan sebagai terapi tunggal, meskipun mereka seringkali diberikan secara kombinasi dengan sulfonylurea, insulin, atau metformin.
Beberapa studi menunjukkan thiazolidinediones mengakibatkan berbagai efek baik pada jantung, termsuk penurunan tekanan darah dan peningkatan trigliserida dan kadar kolesterol (termasuk peningkatan kadar HDL, yang dikenal sebagi kolesterol baik). Obat ini juga meredam molekul yang disebut 11Best HSK-1 yang berperan penting pada sindrom metabolik (kondisi pre diabetes, termasuk tekanan darah tinggi dan obesitas) dan diabetes melitus tipe 2.
Rosiglitazone (Avandia) dan pioglitazone (Actos) adalah obat dari golongan thiazolidinedione yang sudah disetujui. Salah satu studi meyakini rosiglitazone bisa memperbaiki fungsi sel beta dan membantu mencegah progresivitas diabetes. Tetapi, di balik manfaatnya yang besar, efek samping obat golongan ini pun mengkhawatirkan.
Thiazolidinediones bisa menyebabkan anemia dan bersama obat diabetes oral lainnya bisa menaikkan berat badan meski masih dalam skala moderat. Obat ini juga meningkatkan risiko peningkatan cairan yang akan memperburuk gagal jantung. Faktanya, troglitazone (Rezulin), agen pertama golongan ini ditarik dari pasaran setelah ditemukan laporan gagal jantung, gagal hati, dan kematian. Tetapi thiazolidinedione saat ini tidak menunjukkan efek yang sama pada hati meskipun ada beberapa laporan liver injury.
Pasien yang mendapat thiazolidinedione harus dimonitor secara teratur menyusul studi tahun 2002 yang menemukan insiden cukup tinggi gagal jantung pada pasien yang menggunakan obat ini. Meski studi ini tidak dibuktikan dengan relasi penyebab dan ada dugaan temuan gagal jantung terjadi pada pasien yang memang sudah mengidapnya, namun studi lebih lanjut tetap diperlukan. Beberapa pasien yang mengalami kenaikan berat badan dengan cepat, retensi cairan, atau napas pendek harus dipantau lebih ketat. Obat jenis ini belum diteliti secara intensif dan para ahli meyakni seharusnya tidak digunakan secara rutin untuk manajemen diabetes melitus tipe 2, hanya dalam konteks studi klinis.
Anda mengkonusmis obat yang mana ? dan bagaimana pengalaman anda mengkonsumsi obat tersebut ? Ayo sharing disini…
Referensi:
- Medikasi Spesifik Diabetes Melitus Tipe-2 - Majalah Farmacia
- Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada Diabetes





September 6th, 2008 at 9:02 am
Saya menderita diabetes sudah 15 tahun dan hasil pemeriksaan HbA1c(A1C)adalah 10.Mohon bantuan obat apa yang cocok untuk mengendalikan gula darah saya agar normal kembali sedangkan selama ini obat yang saya gunakan satu buah xepabet 1/2 jam sebelum sarapan pagi
September 9th, 2008 at 7:41 am
Temen temen kunjungi website ini http://www.atmcellfood2u.com
Website ini pasti bisa bantu kalian semua.
Terima Kasih.
Info lebih lanjut bisa hubungi saya:
Suwanto Njoto
HP: 081 130 9039
Flexi: (031) 70 4000 88
September 22nd, 2008 at 6:39 pm
Kami memproduksi herbal anti diabetes. Alhamdulillah, 95% berhasil.
Sebelum kami jual, kami telah ujicoba ke 4 orang dan hasilnya 100% positif.
Saat ini, 3 bulan setelah launcihg, telah terjual lebih dari 10.000 botol. Kami sedang proses mengurus ijin dari Balai POM Depkes, insya Allah awal tahun 2009 anda sudah bisa mendapatkannya di apotek.
http://yogya-visiprima.indonetwork.co.id/698353/herbal-caps-anti-diabetes-terbukti-manjur.htm
Ardhina
July 8th, 2009 at 9:42 pm
apa nama obatnya dan dimana saya bisa mendapatkanya.