Arsip Oleh

Ilustrasi: Spontaneous Human Combustion
Galway, Irlandia, Meninggal karena gagal ginjal atau serangan jantung adalah komplikasi yang sudah lazim pada penderita diabetes. Namun di Irlandia, penderita diabetes meninggal karena sebab yang aneh yakni tubuhnya mendadak terbakar secara misterius.
Michael Faherty, laki-laki 76 tahun asal Galway, Irlandia baru-baru ini ditemukan tak bernyawa di rumahnya sendiri. Kakek penderita diabetes tipe 2 ini diketahui memang memiliki komplikasi tekanan darah tinggi, namun dipastikan tidak meninggal karena serangan jantung.
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- komplikasi diabetes mellitus,alat test HbA1c di Indonesia,spontaneous human combustion diabetes,gagal ginjal meninggal,sebab dan akibat kasus pasien,reaksi kimia dalam tubuh penderitadiabetes melitus,pisang kepok rebus untuk penderita diabetes,kondisi penderita dm,kondisi pasien dm,combustion kasus pasien
Semua orang memiliki risiko terkena penyakit diabetes. Namun menurut penelitian terbaru, kemungkinan pria menderita diabetes lebih besar dibandingkan wanita.
Studi terbaru itu diprakarsai oleh akademisi dari Glasgow University. Mereka menemukan bahwa pria memiliki risiko yang lebih besar terkena penyakit diabetes tipe 2 walau memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih rendah daripada wanita.
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- diabetes minitus,diabetes miletus,insiden dm,diabetes melitus 2011,insiden penyakit dm di indonesia tahun 2011,jelaskan hubungan insulin denganglukagon,penelitian terbaru diabetes melitus tahun 2011,diabetes melitus pada kehamilan menurut indonesia tahun 2010,nasi putih diabetes,diabetes mellitus terkini
Dibanding beras merah atau biji-bijian, nasi putih memang lebih nikmat. Tapi para ahli menemukan orang yang makan nasi putih dari waktu ke waktu memiliki tekanan darah yang tinggi, peningkatan kadar gula dan lemak berbahaya dalam darah, serta rendahnya kadar kolesterol baik.
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- diit dm,senam kaki diabetik,data DM di Indonesia,ketoasidosis diabetik,jagung untuk diabetes,nasi jagung untuk diabetes,tanda-tanda diabetes,sayuran untuk kencing manis,makanan untuk diabet,beras jagung untuk diabetes
Madison, Wisconsin, Sebuah klinik di Amerika menghubungi ribuan pasien untuk mengingatkan kemungkinan tertular Human Imunodeficiency Virus (HIV). Gara-garanya, salah satu perawat melakukan kesalahan saat mengajari pasien diabetes cara menyuntikkan insulin.
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- HUBUNGAN INSULIN DENGAN GLUKAGON,kategori insulin,gambar orang dm,hubungan insulin dan glukagon,hubungan antara insulin dan glukagon,seputar anakjenis sayur yang tidak mengandung kolesterol,hubungan perilaku kegemukan dengan insulin dan glukagon,insulin murni,kandungan kopi pada glukagon,leaflet Kencing manis dari Dinas Kesehatan
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Rijki, berhasil menemukan kandungan labu parang yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Penemuannya itu membuat Rijki memperoleh penghargaan Alltech Young Scientist Award.
Labu parang mengandung senyawa saponin dan flavanoid, yang keduanya berkhasiat menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki sel beta pancreas untuk menghasilkan insulin kembali.
“Bahan-bahan ini terkandung dalam labu parang,” uangkap Rijki kepada wartawan seusai acara penyerahan penghargaan di FKH UGM di Yogyakarta, Jumat (8/7/2011).
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- jus labu parang,terapi obat diabetes,terapi obat dm,obat terapi diabetes,gambarorangkencing,kasiat labu parang bagi penyakit diabetes,OBAT SERA?,pengukuran diabetes,kandungan obat sera,sayuran penyembuh darah tinggi
Penelitian menunjukkan, mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi berisiko lebih besar mengalami kematian, mengidap diabetes dan penyakit jantung. Bahkan, dengan rutin menonton televisi selama dua jam sehari pun bisa berdampak signifikan bagi kesehatan.

Setiap hari, penduduk di Amerika Serikat menghabiskan waktu rata-rata 5 jam untuk duduk di depan layar kaca, sementara orang Australia dan beberapa orang Eropa menghabiskan antara 3,5 jam dan 4 jam sehari. Data ini disampaikan para ahli dari Harvard School of Public Health.
“Pesan ini sederhana. Mengurangi waktu menonton TV adalah cara penting untuk mengurangi kebiasaan duduk secara terus-menerus dan mengurangi risiko diabetes dan penyakit jantung,” kata Frank Hu, salah seorang peneliti.
Dia menambahkan, orang yang duduk di depan televisi tidak hanya menjadi kurang berolahraga, tetapi juga cenderung menyantap makanan tidak sehat. “Kombinasi gaya hidup banyak duduk, pola makan tidak sehat, dan obesitas menciptakan ‘daerah pembiakan sempurna’ untuk diabetes tipe 2 dan penyakit jantung,” tuturya.
Ini bukan penelitian pertama yang menghubungkan durasi menonton TV dengan penyakit. Banyak penelitian menemukan hubungan yang kuat antara menonton televisi dan obesitas, dan sebuah laporan pada 2007 menemukan bahwa waktu menonton TV berhubungan dengan tekanan darah tinggi dan obesitas anak-anak.
Penelitian lain pada tahun sama menemukan, anak-anak dengan kategori overweight yang menonton iklan makanan cenderung menggandakan asupan makanan mereka.
Untuk keperluan penelitian terbaru ini, Hu dan timnya mengkaji 8 penelitian yang menguji hubungan antara durasi menonton televisi dan penyakit. Penelitian yang dipublikasikan Journal of the American Medical Association itu melibatkan lebih dari 200.000 orang dalam jangka waktu 7 hingga 10 tahun.
Hu dan para koleganya menemukan, untuk setiap dua jam sehari menonton televisi, risiko mengidap diabetes meningkat 20 persen, sedangkan risiko penyakit jantung naik 15 persen. Menonton televisi dua jam setiap hari juga dapat meningkatkan risiko kematian sebanyak 13 persen.
Berdasarkan temuan itu, Hu dan timnya memperkirakan, di antara 100.000 orang, membatasi waktu menonton televisi hingga 2 jam dapat mencegah 176 kasus baru diabetes, 38 kasus penyakit kardiovaskuler fatal, dan 104 kematian dini setiap tahun.
Peneliti mengingatkan, hasil riset ini tidak serta merta membuktikan bahwa menonton TV adalah satu-satunya faktor yang meningkatkan risiko penyakit. “Benar bahwa antara mereka yang banyak menonton TV dan mereka yang menonton dalam waktu lebih sedikit memiliki perbedaan terutama dalam hal pola makan dan tingkat aktivitas fisik,” kata Hu.
Ia menambahkan, mereka yang keranjingan menonton TV cenderung menyantap makanan tidak higienis. Pola makan tidak sehat dan kemalasan juga akibat dari menonton televisi berkepanjangan. Jadi, penelitian itu menjelaskan betapa besar dampak merugikan dari kebiasaan duduk selama berjam-jam.
Sumber :RTR,ANT | KOMPAS.com —
Kata/Istilah Pencarian:
- kucing nonton tv
Apapun jenis gulanya, jika dikonsumsi berlebihan maka bisa memicu berbagai masalah seperti diabetes dan kegemukan. Pakar kesehatan bahkan mengatakan, gula sudah bisa disebut racun jika dikonsumsi lebih dari 8 sendok teh dalam sehari.
Di Amerika Serikat, banyak produsen makanan menggunakan High Fructose Corn Syrup (HFCS) atau gula jagung yang lebih berbahaya dari gula pasir atau gula tebu. Berbeda dengan gula pasir yang merupakan sukrosa, gula tebu adalah fruktosa yang strukturnya lebih sederhana.
Makin sederhana struktur gulanya, makin mudah diserap oleh tubuh sehingga lebih cepat menaikkan kadar gula dalam darah. Bagi pengidap diabetes yang sulit mengolah gula, kondisi ini sangat berbahaya karena bisa memicu berbagai komplikasi termasuk gangguan jantung.
Meski lebih aman dibandingkan gula jagung, gula pasir atau gula tebu tetap tidak lebih aman. Ahli endokrinologi dari University of California, Dr Robert Lustig mengatakan dalam bentuk apapun gula tetap berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.
“Gula dalam bentuk fruktosa maupun sukrosa sama-sama tidak baik dan berbahaya untuk kesehatan. Keduanya adalah racun bagi tubuh,” ungkap Dr Lustig seperti dikutip dari Foxnews, Selasa (3/4/2011).
Meski begitu, konsumsi gula orang Amerika Serikat justru makin meningkat dalam 30 tahun terakhir. Akibatnya, bukan hanya jumlah penderita obesitas saja yang meningkat tetapi juga pengidap diabetes terutama tipe 2 yang dipicu oleh pola makan yang tidak sehat.
Terlebih, sebagian di antaranya tidak menyadari jenis gula yang dikonsumsinya. Berbagai jenis makanan olahan di negara tersebut masih menggunakan gula jagung, sementara konsumen jarang memperhatikan label yang tercantum dalam kemasan saat membelinya.
Dr Lustig mengatakan, konsumsi gula dalam bentuk apapun tidak boleh melebihi 8 sendok teh dalam sehari. Berbagai jenis penyakit kronis banyak ditemukan di Amerika Serikat karena orang-orang di negara itu rata-rata mengonsumsi gula 4 kali lebih banyak dari yang dianjurkan.
Sbr: AN Uyung Pramudiarja – detikHealth
Kata/Istilah Pencarian:
- perbedaan glukosa dan fruktosa,perbedaan fruktosa dan glukosa,sukrosa diabetes,perbedaan sukrosa glukosa fruktosa,gula jagung untuk diabetes,beda glukosa dan fruktosa,perbedaan sukrosa glukosa dan fruktosa,beda glukosa fruktosa sukrosa,pengaruh tebu pada diabetes,perbedaan gula dan sukrosa

California, Peneliti mencoba mempelajari bagaimana lumba-lumba mengatasi penyakit diabetesnya.
Dengan belajar dari mamalia ramah satu ini, obat diabetes baru pun bisa dikembangkan.
Peneliti menemukan bahwa lumba-lumba punya tipe penyakit diabetes yang sama dengan manusia dewasa. Tapi uniknya, lumba-lumba punya caranya sendiri untuk menonaktifkan atau mengaktifkan penyakitnya sendiri.
Lanjutkan membaca…
Kata/Istilah Pencarian:
- lumba-lumba biru,lumba lumba biru,jual prodiabet,jual pro diabet,www prodiabet com,prodiabet mengobati dapat diabetes,foto lumba-lumba terbaru,hyperlipidemia dan dm,obat prodiabet,pro diabet jual






